


​Perkembangan situasi di Timur Tengah masih terus memanas dan belum menunjukkan tanda de-eskalasi konflik. Kabar terkini, Donald Trump dikabarkan sudah memasuki Situation Room untuk memimpin langsung operasi militer terhadap Iran. Selama beberapa hari terakhir, pasukan AS secara agresif menghancurkan berbagai aset militer Iran, mulai dari situs peluncuran rudal hingga sistem pertahanan udara. Serangan kini meluas hingga melumpuhkan jalur kereta api yang menghubungkan perdagangan ke Rusia dan Tiongkok.
​Merespons situasi tersebut, Iran bersiap dan langsung menginstruksikan kelompok Houthi di Yaman untuk memblokade jalur perairan Bab-el-Mandeb. Berdasarkan laporan dari Reuters pada Kamis (16/7), langkah ini dilakukan sebagai upaya strategis Iran untuk merespons ancaman jika AS menyerang infrastruktur energi mereka.
​Terkait instruksi tersebut, kelompok Houthi segera memobilisasi berbagai aset militer, termasuk rudal dan drone, ke posisi strategis di pegunungan Yaman yang menghadap Selat Bab-el-Mandeb, Kota Hodeidah, serta Teluk Aden. Sumber dekat Houthi mengonfirmasi kepada Reuters bahwa penempatan aset ini merupakan respons taktis atas situasi yang berkembang, di mana mereka kini bersiaga menunggu perintah lebih lanjut dari Korps Garda Revolusi Iran untuk memulai penutupan jalur perairan tersebut.
​Apabila blokade ini benar-benar terjadi, dampaknya akan sangat masif terhadap ekonomi dunia. Selat Bab-el-Mandeb saat ini memegang peranan krusial sebagai jalur distribusi bagi 7% pasokan minyak dunia, terutama setelah terganggunya Selat Hormuz. Aksi ini secara otomatis akan menyeret konflik Iran dan Amerika Serikat ke dalam krisis energi global yang lebih dalam, sekaligus memperluas skala konflik di kawasan Timur Tengah.