Militer Amerika Serikat (AS) resmi melancarkan gelombang serangan presisi terhadap fasilitas militer Iran pada Selasa (1/9) siang waktu setempat (ET). Setelah sejumlah pejabat AS sempat mengonfirmasi operasi tersebut kepada jaringan berita Fox News dan Faytuks Network, Komando Pusat AS (CENTCOM) secara resmi merilis konfirmasi bahwa serangan tersebut secara spesifik menargetkan infrastruktur milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Langkah militer ini merupakan respons langsung atas aksi agresi IRGC terhadap serangan kapal tanker minyak di Selat Hormuz serta ancaman terhadap personel militer AS di kawasan tersebut, dengan serangkaian ledakan dilaporkan mengguncang kota pelabuhan Bandar Abbas, Pulau Qeshm, hingga Chabahar.
​Eskalasi konflik langsung ini langsung mengguncang pasar komoditas energi global. Harga minyak mentah dunia melesat sesaat setelah kabar penyerangan dan rilis resmi militer dikonfirmasi, dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkerek naik ke kisaran $89 per barel dan patokan internasional minyak mentah Brent melonjak menyentuh level $94 per barel.
​Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik ini menyeret harga Bitcoin terkoreksi hingga menyentuh level $77.500 per BTC seiring likuidasi posisi jangka pendek dan larinya likuiditas pelaku pasar menuju instrumen safe haven guna mengantisipasi potensi eskalasi lanjutan.



