Harga Bitcoin (BTC) kembali menembus level $83.000 pada perdagangan Senin (19/10/2026), setelah sebelumnya mengalami tekanan jual di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Pemulihan harga ini menunjukkan adanya tekanan beli setelah koreksi sebelumnya. Namun, penyebab pasti kenaikan Bitcoin belum dapat dipastikan hanya dari pergerakan harga, karena pasar kripto dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari transaksi investor besar hingga kondisi ekonomi global.
Salah satu faktor utama yang mendukung pemulihan Bitcoin adalah turunnya harga minyak dunia dari level tertinggi dalam lima bulan. Penurunan ini terjadi seiring munculnya tanda-tanda bahwa pasokan minyak Timur Tengah tetap stabil meski konflik AS-Iran masih berlangsung. Kondisi tersebut membantu meredakan kekhawatiran inflasi dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Bloomberg Technoz
Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut mengurangi tekanan terhadap Bitcoin. BTC sebelumnya sempat jatuh di bawah $80.000 akibat inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dan kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga ketat.
Meski demikian, pemulihan ini masih rentan. Investor tetap mencermati arah suku bunga The Fed, pergerakan harga minyak, dan arus dana institusi untuk menentukan apakah Bitcoin mampu bertahan di atas $83.000.


.png)
