


​Blackrock melalui laporan terbaru yang dirilis pada Rabu (24/6) kemarin menyatakan bahwa kini mereka telah merekomendasikan para penasihat keuangan untuk mulai memasukkan alokasi Bitcoin sebesar 1% hingga 2% ke dalam portofolio investasi jangka panjang. Angka ini dinilai sebagai porsi ideal bagi investor kripto pemula untuk mengoptimalkan imbal hasil modal tanpa mengorbankan batasan risiko yang berlebihan.
​Menariknya, Blackrock menggunakan pendekatan berbasis manajemen risiko yang akrab bagi pelaku pasar finansial. Mereka menyamakan profil risiko dari alokasi 1% sampai 2% Bitcoin tersebut dengan tingkat volatilitas saham-saham teknologi raksasa Amerika Serikat yang tergabung dalam kelompok Magnificent Seven. Pembandingan ini sengaja dibuat agar para investor yang baru beralih ke aset digital bisa mengukur dan memetakan fluktuasi harga Bitcoin secara lebih terukur dan tidak spekulatif.
​Namun, Blackrock juga memberikan catatan penting mengenai peta likuiditas global saat ini. Direktur Pelaksana Blackrock, Robbie Mitchnick, mengungkapkan bahwa narasi investasi kecerdasan buatan atau AI yang sedang booming dalam enam bulan terakhir telah menyedot modal dalam jumlah besar dari aset alternatif seperti Bitcoin dan emas. Sebagian besar modal institusional saat ini lebih banyak terserap ke sektor infrastruktur AI dan produsen semi-konduktor. Meski harus bersaing ketat dengan tren AI, Blackrock tetap menegaskan keyakinan jangka panjang mereka bahwa fundamental Bitcoin tetap kuat dan berpotensi bergerak ke level yang jauh lebih tinggi.