​Sektor tokenisasi aset dunia nyata (RWA) dinilai segera memasuki fase siklus super yang mengubah struktur pasar finansial global secara fundamental. Pandangan tersebut disampaikan oleh Presiden Solana Foundation, Lily Liu, melalui unggahannya di media sosial X pada Rabu (2/9). Lily menegaskan bahwa fenomena tokenisasi ini bukan sekadar reli pasar biasa, melainkan migrasi jangka panjang uang, aset, dan hak kepemilikan menuju infrastruktur internet terprogram yang beroperasi tanpa henti.
​Momentum ini dipicu oleh konvergensi empat kekuatan utama yang kini saling terhubung. Faktor pendorong tersebut mencakup adopsi masif stablecoin dalam perputaran sistem keuangan global, percepatan institusi keuangan membawa aset ke jaringan blockchain, kesiapan infrastruktur memproses transaksi berbiaya murah dengan kecepatan tinggi, serta kemunculan agen kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan uang terprogram untuk bertransaksi secara otonom.
​Peralihan ini diproyeksikan mampu meruntuhkan friksi geografis dan batasan nominal tiket investasi yang selama ini membatasi pasar modal konvensional. Melalui keterbukaan akses kepemilikan aset, siapa pun dapat memperjualbelikan instrumen bernilai maupun menjadikannya jaminan pinjaman secara langsung. Potensi ini turut mendorong bursa efek konvensional seperti NYSE, London Stock Exchange, hingga DTCC mulai mengeksplorasi perdagangan instrumen pasar modal secara on-chain.
​Meski volume transaksi aset ter-tokenisasi saat ini masih tergolong kecil dibanding pasar sekuritas tradisional, integrasi institusional terus menunjukkan akselerasi nyata. Di ekosistem Solana sendiri, sistem settlement pembayaran dan transfer lintas negara telah dimanfaatkan oleh institusi keuangan global seperti Visa, PayPal, MoneyGram, hingga Western Union, dengan total volume perputaran stablecoin melampaui $4,7 triliun sepanjang setahun terakhir.



