

.png)
.png)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dilaporkan menyentuh level Rp18.200, menandai salah satu titik terlemah mata uang Indonesia sepanjang sejarah. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan eksternal yang berasal dari gejolak geopolitik global, arus modal asing, serta tingginya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar AS.
Sejumlah analis sebelumnya telah memperkirakan bahwa setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, pelemahan rupiah berpotensi berlanjut menuju Rp18.200. Tekanan terhadap mata uang Garuda dinilai tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi sentimen pasar terhadap kondisi ekonomi domestik dan prospek fiskal Indonesia.
Pelemahan rupiah berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian nasional. Kenaikan nilai dolar AS dapat membuat harga barang impor menjadi lebih mahal, meningkatkan biaya produksi industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri, serta memicu tekanan inflasi di tingkat konsumen.
Ekonom juga memperingatkan bahwa depresiasi rupiah yang berkelanjutan dapat menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah dan bawah. Selain itu, perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS atau bergantung pada impor berisiko menghadapi kenaikan beban operasional yang signifikan.