asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
BOOSTUSDT0.00011-0.000008 ( -6.7% )
BTCUSDT66,177.1-1604.39 ( -2.37% )
DOGEUSDT0.09853-0.00256 ( -2.53% )
ETHUSDT1,940.96-56.92 ( -2.85% )
HOUSEUSDT0.0029385+0.00053 ( +21.99% )
SLVONUSDT69.4-0.83 ( -1.18% )
SOLUSDT80.93-3.95 ( -4.65% )
TRXUSDT0.2786-0.0035 ( -1.24% )
XRPUSDT1.4229-0.0625 ( -4.21% )
Powered by
News

Era Ritel Kripto Diuji: Bitcoin ETF Hadapi Titik Kritis di $89.600

User
November 5, 2025 | 09:00 WIB
User
UpdatedBenny Hawe
November 5, 2025 | 09:00 WIB
Era Ritel Kripto Diuji: Bitcoin ETF Hadapi Titik Kritis di $89.600

Gelombang besar investor ritel yang masuk ke pasar Bitcoin melalui exchange-traded funds (ETF) kini menghadapi ujian berat, setelah harga Bitcoin (BTC) anjlok lebih dari 20% dari puncaknya bulan lalu. Penurunan ini menghapus sebagian besar reli yang sempat mendorong Bitcoin ke rekor tertinggi sepanjang masa, didorong oleh aliran miliaran dolar ke produk ETF spot yang mudah diakses publik.

Menurut K33 Research, rata-rata harga beli (cost basis) seluruh arus masuk ke ETF Bitcoin spot di AS kini berada di sekitar US$89.613, yang menjadi titik impas bagi investor ETF. Level tersebut juga bertepatan dengan zona teknikal penting dari April 2025, ketika Bitcoin memantul dari posisi terendahnya setelah tekanan jual yang berkepanjangan.

“Menarik untuk melihat bagaimana reversal di April bertepatan dengan rata-rata cost basis tersebut,” ujar Vetle Lunde, Kepala Riset K33, kepada Bloomberg.

Artinya, sebagian besar investor ETF tidak membeli di puncak harga, melainkan menambah posisi saat pasar terkoreksi — sebuah strategi yang tampak bijak di awal, tetapi kini berisiko jika Bitcoin terus melemah. Jika harga kembali ke kisaran $89.600, investor bisa beralih dari posisi untung ke rugi dalam waktu singkat.

Meski begitu, sebagian analis menilai bahwa investor ETF cenderung lebih tahan terhadap fluktuasi jangka pendek dan justru menjadi faktor penstabil volatilitas pasar kripto. Namun, koreksi terbaru membuktikan bahwa volatilitas ekstrem masih menjadi bagian tak terpisahkan dari aset digital ini — meskipun kini telah diadopsi oleh Wall Street.

Selasa lalu, Bitcoin sempat turun lebih dari 6% hingga di bawah US$100.000, level terendah sejak Juni, sementara Ether dan altcoin lain mengalami penurunan lebih tajam. Kondisi pasar yang lesu ini diperparah oleh rendahnya partisipasi dan trauma pasca-likuidasi besar pada Oktober yang menghapus miliaran dolar dari posisi leverage.

ETF terbesar di dunia yang melacak Bitcoin, BlackRock’s iShares Bitcoin Trust (IBIT), telah menerima arus masuk investor lebih dari US$27 miliar tahun ini, dengan total aset kelolaan mencapai US$85 miliar, menurut data Bloomberg.

Meski tampak suram, sejarah menunjukkan bahwa Bitcoin berulang kali bangkit dari koreksi lebih dari 50%, memperkuat reputasinya sebagai aset yang tangguh terhadap tekanan jangka panjang. Seperti yang dikatakan analis James Seyffart dari Bloomberg Intelligence, “Aset ini selalu bergerak dua langkah maju, satu langkah mundur. Pertanyaannya hanya, apakah ini langkah mundur biasa — atau awal dari penurunan yang lebih dalam.”

Copiedbagikan