asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
BANKUSDT0.34104-0.08854 ( -20.61% )
BTCUSDT63,560.0-1850.46 ( -2.83% )
DEXEUSDT3.357+0.253 ( +8.15% )
ETHUSDT1,885.2-84.42 ( -4.29% )
HEIUSDT0.0865-0.0067 ( -7.19% )
HYPEUSDT55.344-4.58 ( -7.64% )
SHIBUSDT0.00000467-0.00000046 ( -8.97% )
SOLUSDT73.43-3.14 ( -4.1% )
XRPUSDT1.0583-0.0513 ( -4.62% )
Powered by
News - Web3

Forbes: Kripto Ciptakan Institusi Keuangan Baru, Bukan Hapuskan TradFi

User
July 28, 2026 | 04:23 WIB
User
UpdatedDwi Cahyo
July 28, 2026 | 04:23 WIB
Forbes: Kripto Ciptakan Institusi Keuangan Baru, Bukan Hapuskan TradFi

​Impian awal industri kripto untuk menghapuskan peran perantara (disintermediation) kini menghadapi realitas baru di lapangan. Laporan yang dilansir Forbes pada 27 Juli 2026 mengungkapkan bahwa adopsi teknologi blockchain tidak melenyapkan lembaga keuangan tradisional, melainkan melahirkan generasi baru perantara keuangan digital. Pergeseran ini terlihat jelas dari pemanfaatan stablecoin yang diakui sebagai infrastruktur utama, di mana kepatuhan regulasi dan tata kelola penerbit menjadi fondasi utama kepercayaan pengguna ketimbang sekadar keunggulan teknologinya.

​Pertumbuhan pasar RWA juga mempertegas peran penting lembaga keuangan konvensional dalam ekosistem aset digital. Langkah raksasa finansial global seperti BlackRock dan JPMorgan dalam memimpin proses tokenisasi instrumen obligasi hingga komoditas membuktikan bahwa fungsi keuangan tradisional, seperti kepatuhan hukum, manajemen dana, dan perlindungan investor, tetap tidak tergantikan. Blockchain bertindak sebagai pembaruan infrastruktur transaksi, sementara institusi besar tetap memegang kendali atas operasional dan penyediaan layanannya.

​Ketergantungan terhadap perantara ini juga tercermin dari cara investor institusional mengakses pasar aset kripto secara luas. Sebagian besar institusi memilih berinvestasi melalui instrumen yang terintegrasi dengan sistem keuangan lama, seperti produk Exchange-Traded Products (ETP) dan kustodian resmi, ketimbang mengelola private key secara mandiri. Bahkan dalam konteks Decentralized Autonomous Organization (DAO), konsentrasi pengambilan keputusan tetap cenderung terpusat pada pemegang token besar dan spesialis tata kelola, membuktikan bahwa teknologi saja belum mampu menghapus dinamika interaksi kolektif manusia.

​Perkembangan ini tidak sepatutnya dipandang sebagai kegagalan dari cita-cita awal kripto, melainkan proses evolusi alami yang senantiasa berulang dalam sejarah teknologi finansial. Inovasi teknologi jarang sekali memusnahkan perantara secara total, melainkan mentransformasi struktur dan mekanisme kerja mereka agar lebih relevan. Tantangan terbesar bagi industri kripto saat ini bukan lagi memutus hubungan dengan institusi keuangan, melainkan memastikan bahwa para perantara digital baru ini mampu menghadirkan sistem yang jauh lebih transparan, efisien, dan dapat diverifikasi dibandingkan sistem yang berusaha mereka gantikan.

Copiedbagikan