

.png)
.png)

Harga minyak mentah Brent kembali menembus level US$90 per barel setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
Kenaikan harga dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak global. Selat Hormuz menjadi jalur transit bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar energi.
Memanasnya konflik antara AS dan Iran telah meningkatkan risiko terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi kawasan itu. Kondisi tersebut memicu lonjakan premi risiko (risk premium) pada harga minyak karena pelaku pasar mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan yang lebih luas.
Lonjakan harga Brent di atas US$90 per barel juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global apabila berlangsung dalam waktu lama. Harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan biaya transportasi, logistik, dan produksi di berbagai sektor ekonomi.