

.png)
.png)

Militer Amerika Serikat mulai melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah target di wilayah Iran atas perintah Presiden Donald Trump. Menurut laporan CBS, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan tindakan "bela diri" sebagai respons atas serangan yang menargetkan aset militer AS.
Target yang diserang meliputi fasilitas pertahanan udara, pusat kendali darat, serta instalasi radar pengawasan yang berada di dalam wilayah Iran. Operasi ini dilakukan setelah sebuah helikopter serang AH-64 Apache milik Amerika Serikat dilaporkan ditembak jatuh pada Senin lalu di dekat pesisir Oman dan kawasan Selat Hormuz.
Pejabat AS menyebut serangan tersebut sebagai respons yang proporsional terhadap apa yang mereka gambarkan sebagai "agresi Iran yang tidak diprovokasi". Pemerintah AS juga menegaskan bahwa operasi militer ini tidak dimaksudkan untuk memicu perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Perkembangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Trump menyatakan bahwa pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran telah memasuki tahap akhir. Saat itu, Trump bahkan menyebut kesepakatan berpotensi tercapai dalam waktu "dua atau tiga hari".
Serangan terbaru berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan yang selama ini menjadi jalur penting perdagangan energi dunia. Pasar global diperkirakan akan mencermati respons Iran terhadap aksi militer tersebut, terutama mengingat posisi strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia.