


Investor kripto di Korea Selatan mulai meninggalkan market aset kripto setelah Donald Trump resmi menaikkan tarif impor menjadi 25%. Langkah ini memicu perpindahan modal besar-besaran, di mana investor ritel kini lebih memilih melakukan akumulasi pada saham domestik yang dinilai lebih stabil dalam menghadapi dinamika kebijakan baru Amerika Serikat.
​Penurunan ini terlihat nyata pada data exchange Upbit yang mencatat volume perdagangan anjlok hingga 51%. Uniknya, meski dibayangi tarif impor, indeks saham Korea (KOSPI) justru mencetak rekor dengan menembus level 5.000 poin berkat respons cepat stimulus pemerintah untuk menjaga daya beli. Banyak investor pemula yang mulai merasa lelah dengan volatilitas di kripto dan memilih mengejar untung lewat rally panjang di pasar saham yang sedang dalam tren positif.
​Menariknya, meskipun banyak investor ritel menjual aset kripto mereka, minat perusahaan besar atau institusi justru tetap kuat. Saham perusahaan yang berkaitan dengan teknologi kripto, seperti Woori Technology Investment, harganya tetap naik. Ini menunjukkan bahwa meskipun market sedang goyang, masa depan industri ini secara jangka panjang masih dinilai bullish oleh para pemain besar di industri keuangan.