asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
tether usd iconfusionist iconACEUSDT0.1901-0.0094 ( -4.71% )
tether usd iconaster iconASTERUSDT0.723+0.019 ( +2.7% )
tether usd iconbitcoin iconBTCUSDT77,723.2+225.52 ( +0.29% )
tether usd iconethereum iconETHUSDT2,405.01-6.25 ( -0.26% )
tether usd iconhyperliquid iconHYPEUSDT82.384-0.78 ( -0.94% )
tether usd iconsolana iconSOLUSDT100.7+0.8 ( +0.8% )
tether usd iconsui iconSUIUSDT0.7714+0.0498 ( +6.9% )
tether usd icontutorial iconTUTUSDT0.02573-0.00284 ( -9.94% )
tether usd iconripple iconXRPUSDT1.366+0.0215 ( +1.6% )
Powered by
powered by triv
Web3

Indeks Adopsi Bitcoin Cornell: Kepemilikan di Indonesia Kalahkan AS dan Jepang

User
September 3, 2026 | 06:59 WIB
User
UpdatedDwi Cahyo
September 3, 2026 | 06:59 WIB
Indeks Adopsi Bitcoin Cornell: Kepemilikan di Indonesia Kalahkan AS dan Jepang

Laporan riset bertajuk Bitcoin Adoption Index yang dirilis Tech Policy Institute Universitas Cornell menempatkan Indonesia di jajaran terdepan adopsi aset kripto global. Berdasarkan survei komprehensif terhadap 25.880 responden di 25 negara yang dipublikasikan melalui laman resminya tercatat sebanyak 18% populasi dewasa di Indonesia pernah atau sedang memiliki Bitcoin. Tingkat kepemilikan tersebut bahkan melampaui negara maju seperti Amerika Serikat yang mencatatkan 14% serta Jepang yang hanya berada di level 10%.

​Berbeda dari tren global yang kerap didominasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, profil pemegang Bitcoin di Indonesia justru didorong oleh kalangan mapan dan terdidik. Data dasbor riset memperlihatkan kepemilikan tertinggi di tanah air berasal dari segmen berpenghasilan tinggi (higher income) sebesar 20% dan kelompok berpendidikan sarjana ke atas sebesar 20%. Selain itu, tingkat kepemilikan pada kelompok masyarakat yang menyatakan percaya terhadap pemerintah (trust government) juga tercatat lebih tinggi, mencapai angka 23%.

​Secara global, indeks Cornell menggarisbawahi bahwa pemanfaatan Bitcoin di negara berkembang umumnya berfungsi sebagai instrumen perlindungan nilai dari devaluasi mata uang lokal ketimbang sekadar aset spekulasi. Kendati penetrasi kepemilikan tergolong masif, laporan tersebut mencatat sekitar 58% responden di seluruh dunia masih belum menyadari batasan suplai maksimal Bitcoin yang hanya 21 juta koin, memperlihatkan tantangan literasi finansial yang masih membayangi laju adopsi aset digital saat ini.

 

Stay Updated

Follow Cryptowave di Google News

Dapatkan berita kripto, blockchain, dan WEB3 terbaru setiap hari langsung dari Google News Cryptowave.

Follow Sekarang
Copiedbagikan

Most Read