Laporan riset bertajuk Bitcoin Adoption Index yang dirilis Tech Policy Institute Universitas Cornell menempatkan Indonesia di jajaran terdepan adopsi aset kripto global. Berdasarkan survei komprehensif terhadap 25.880 responden di 25 negara yang dipublikasikan melalui laman resminya tercatat sebanyak 18% populasi dewasa di Indonesia pernah atau sedang memiliki Bitcoin. Tingkat kepemilikan tersebut bahkan melampaui negara maju seperti Amerika Serikat yang mencatatkan 14% serta Jepang yang hanya berada di level 10%.
​Berbeda dari tren global yang kerap didominasi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, profil pemegang Bitcoin di Indonesia justru didorong oleh kalangan mapan dan terdidik. Data dasbor riset memperlihatkan kepemilikan tertinggi di tanah air berasal dari segmen berpenghasilan tinggi (higher income) sebesar 20% dan kelompok berpendidikan sarjana ke atas sebesar 20%. Selain itu, tingkat kepemilikan pada kelompok masyarakat yang menyatakan percaya terhadap pemerintah (trust government) juga tercatat lebih tinggi, mencapai angka 23%.
​Secara global, indeks Cornell menggarisbawahi bahwa pemanfaatan Bitcoin di negara berkembang umumnya berfungsi sebagai instrumen perlindungan nilai dari devaluasi mata uang lokal ketimbang sekadar aset spekulasi. Kendati penetrasi kepemilikan tergolong masif, laporan tersebut mencatat sekitar 58% responden di seluruh dunia masih belum menyadari batasan suplai maksimal Bitcoin yang hanya 21 juta koin, memperlihatkan tantangan literasi finansial yang masih membayangi laju adopsi aset digital saat ini.



