Otoritas Pasar Modal India (SEBI) resmi memperkenalkan proyek percontohan Demat 2.0 pada Kamis (10/9) untuk menerbitkan obligasi korporasi tertokenisasi dengan proses settlement memakai rupee digital (CBDC wholesale). Inisiatif kolaborasi bersama Bank Sentral India (RBI) ini diumumkan pada ajang Global Fintech Fest di Mumbai, dengan menggandeng lembaga kustodian NSDL dan CDSL, bursa efek NSE dan BSE, perbankan seperti HDFC Bank dan ICICI Bank, serta National Payments Corporation of India.
​Melalui sistem Demat 2.0, pencatatan kepemilikan obligasi pada buku besar terdistribusi (distributed ledger) terhubung langsung dengan sistem pembayaran melalui Unified Market Interface. Integrasi ini memungkinkan transfer obligasi dan pengiriman dana terjadi serentak (atomic settlement), sehingga menghapus risiko gagal transaksi dan memangkas proses rekonsiliasi manual. SEBI menegaskan pembaruan ini murni pada aspek teknologi tanpa mengubah status hukum instrumen, perlindungan investor, maupun kewajiban peringkat kredit, di mana aset tetap dapat diakses melalui akun demat yang sudah ada.
​Pada tahap awal, tiga korporasi telah menerbitkan obligasi lewat sistem baru ini dengan total nilai 1.025 crore rupee (sekitar $107 juta), mencakup REC dan Larsen & Toubro masing-masing 500 crore rupee, serta IIFL sebesar 25 crore rupee. Partisipasi instrumen saat ini masih dibatasi bagi investor institusional pemegang dompet CBDC, sebelum nantinya pasar sekunder dibuka bertahap bagi investor ritel.



