


Parlemen Iran tengah mengkaji draf awal rencana strategis pengelolaan Selat Hormuz bekerja sama dengan Oman, menurut laporan kantor berita Fars pada Kamis (6/8). Kerangka kerja sama ini mencakup penataan ulang alur pelayaran kapal, penetapan biaya transit berbasis layanan, hingga pengenaan denda hingga 20% dari nilai kargo bagi kapal yang melanggar ketentuan.
​Berdasarkan draf rancangan undang-undang yang masih dalam tahap peninjauan pakar tersebut, skema awal pelayaran akan mengarahkan kapal yang masuk ke Selat Hormuz melalui koridor utara dekat wilayah Iran, sementara jalur keluar dipusatkan di koridor selatan dekat Oman. Koridor pelayaran utara dan selatan lama nantinya akan dihapus dan dialihkan sepenuhnya ke koridor tengah. Pada fase tersebut, Iran akan mengelola akses masuk secara mandiri, sedangkan jalur keluar dikelola secara bersama antara Iran dan Oman.
​Selain penataan jalur, draf aturan ini menetapkan biaya transit yang dihitung sebagai bagian dari biaya layanan, mencakup asuransi, pengisian bahan bakar (bunkering), serta retribusi lingkungan. Sumber internal membantah adanya perselisihan antara Iran dan Oman terkait besaran tarif kargo tersebut, sembari menegaskan bahwa rekomendasi tambahan masih terus dikumpulkan sebelum draf disahkan menjadi regulasi final.
​Pengetatan pengawasan di Selat Hormuz disinyalir berpotensi memicu dinamika baru pada biaya operasional kapal tanker dan premi asuransi maritim global. Pembentukan mekanisme kontrol bersama ini menandai langkah signifikan Iran dan Oman dalam memperkuat dominasi navigasi di jalur pelayaran paling strategis di kawasan Timur Tengah.
Stay Updated
Follow Cryptowave di Google News
Dapatkan berita kripto, blockchain, dan WEB3 terbaru setiap hari langsung dari Google News Cryptowave.