asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
BOOSTUSDT0.00003981-0.000008 ( -17.35% )
BTCUSDT67,766.9+1848.36 ( +2.8% )
BTTCUSDT0.00000035+0.0 ( +0.0% )
ETHUSDT2,032.37+102.95 ( +5.34% )
PAXGUSDT5,349.0+45.08 ( +0.85% )
SLVONUSDT88.0-0.24 ( -0.27% )
SOLUSDT88.2+6.13 ( +7.47% )
XAUTUSDT5,284.5+12.65 ( +0.24% )
XRPUSDT1.4284+0.0672 ( +4.94% )
Powered by
News - Breaking News

Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Terancam Melonjak Tajam dan Picu Resesi Global

User
March 1, 2026 | 08:02 WIB
User
UpdatedGoldwin
March 1, 2026 | 08:02 WIB
Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Terancam Melonjak Tajam dan Picu Resesi Global

Iran menutup Selat Hormuz dan memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak global hingga dua kali lipat di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Teheran. Jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu merupakan urat nadi perdagangan energi dunia, dengan lebih dari 14 juta barel minyak per hari melintas atau sekitar sepertiga ekspor minyak mentah global melalui laut. Langkah Iran tersebut langsung meningkatkan risiko gangguan pasokan energi yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi internasional.

Sebagai produsen minyak terbesar keempat di OPEC dengan produksi di atas 3 juta barel per hari, posisi Iran sangat strategis dalam struktur pasokan global. Namun dampak terbesarnya bukan hanya pada produksi domestik, melainkan pada kendali geografisnya atas Selat Hormuz. Para analis energi memperingatkan bahwa jika jalur ini benar benar tertutup dalam jangka waktu panjang, resesi global hampir tak terhindarkan karena ketergantungan tinggi negara negara Asia terhadap suplai minyak dari kawasan Teluk.

Sekitar tiga perempat minyak yang melewati Hormuz dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan. China sendiri menggantungkan hampir separuh impor minyak mentahnya dari jalur tersebut. Jika aliran terhenti, negara negara Asia diperkirakan akan melakukan pembelian besar besaran untuk mengamankan pasokan, memicu persaingan harga ekstrem di pasar energi global. Skenario ini berpotensi mendorong harga minyak menembus 100 dolar Amerika per barel bahkan lebih tinggi, terutama jika gangguan berlangsung lebih dari beberapa minggu.

Pada penutupan perdagangan terakhir, harga minyak Brent berada di kisaran 72 dolar Amerika per barel dan WTI di sekitar 67 dolar Amerika per barel. Namun pasar memperkirakan lonjakan tambahan beberapa dolar per barel saat perdagangan dibuka kembali sebagai respons terhadap risiko geopolitik yang meningkat tajam. Kenaikan premi asuransi kapal tanker dan potensi gangguan logistik di Teluk Persia juga memperburuk tekanan harga.

Upaya mitigasi dinilai terbatas. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memang memiliki jalur pipa alternatif untuk mengalihkan sebagian pengiriman tanpa melewati Hormuz, tetapi kapasitasnya tidak cukup untuk menggantikan seluruh volume perdagangan. Amerika Serikat dapat mencairkan cadangan minyak strategisnya yang sekitar 415 juta barel, namun jika krisis berkepanjangan, cadangan tersebut tidak akan mampu menutup kekurangan pasokan global secara penuh. Dengan dinamika ini, pasar energi dan ekonomi dunia kini berada dalam fase ketidakpastian tinggi sambil menunggu perkembangan selanjutnya di kawasan Timur Tengah.

Copiedbagikan