Donald Trump memutuskan untuk membatalkan rencana serangan udara militer terhadap milisi Ansharallah di Yaman pada Senin (21/9). Melansir laporan Reuters dan Bloomberg, langkah penahanan diri ini diambil meski Komando Pusat AS (CENTCOM) telah menyiapkan opsi penyerangan menyusul permintaan bantuan militer langsung dari Arab Saudi dan Presiden Yaman Rashad al-Alimi. Trump menolak mengeksekusi operasi tersebut karena khawatir aksi balasan Ansharallah justru akan mengancam keselamatan jalur pelayaran strategis internasional.
​Kekhawatiran utama AS tertuju pada stabilitas Selat Bab el-Mandeb, rute pelayaran utama yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Kawasan perairan sempit ini merupakan urat nadi distribusi kargo global serta jutaan barel minyak mentah per hari. Jika ketegangan di selat tersebut meletus bersamaan dengan konflik yang masih memanas di Selat Hormuz, pasar energi dunia dipastikan akan terguncang oleh kenaikan tajam harga minyak global serta lonjakan inflasi logistik.
​Di sisi lain, Trump secara terbuka menyatakan bahwa AS telah menjalin kontak komunikasi dengan pihak Ansharallah. Melalui jalur tersebut, milisi Yaman itu diklaim oleh Trump berjanji tidak akan menargetkan kapal-kapal dagang berbendera AS yang melintas di sekitar kawasan perairan tersebut.



