Komisioner Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat, Hester Peirce, mengkritik keras sistem regulasi Know Your Customer (KYC) dan Anti-Money Laundering (AML) yang dinilainya terlalu represif, mahal, serta meningkatkan pengawasan massal (surveillance) terhadap masyarakat.
​Dalam pidatonya di SIFMA Digital Assets Conference di New York pada Kamis (24/9), pejabat yang kerap dijuluki "Crypto Mom" tersebut mengusulkan pemanfaatan teknologi Zero-Knowledge Proofs (ZKP) dan kredensial digital berbasis atribut untuk menggantikan pengumpulan data pribadi secara berlebihan yang berpotensi mengubah sistem keuangan menjadi panopticon.
​Peirce menilai kerangka KYC/AML saat ini beroperasi pada asumsi keliru yang menganggap pengumpulan data sebanyak mungkin akan mempermudah penegak hukum menangkap pelaku kejahatan. Menurutnya, pendekatan tersebut justru memperbesar tumpukan data yang pada akhirnya mempersulit pencarian pelaku kejahatan, sekaligus menjadikan lembaga keuangan sebagai target empuk peretasan data pribadi.
​Sebagai solusinya, Peirce mendorong penerapan teknologi ZKP. Secara sederhana, ZKP adalah teknologi kriptografi yang memungkinkan seseorang membuktikan bahwa ia memenuhi kualifikasi tertentu (seperti batas usia, kewarganegaraan, atau status investor) kepada lembaga keuangan tanpa perlu membocorkan data identitas sensitif seperti nama lengkap, alamat rumah, maupun besaran pendapatan.
​Selain isu privasi dan pengawasan, Peirce yang kini memasuki pekan-pekan terakhir masa jabatannya di SEC juga menyoroti pentingnya penyesuaian pengawasan terhadap jaringan decentralized tanpa perantara. Ia menegaskan bahwa blockchain publik pada dasarnya sudah menyediakan catatan transaksi permanen dan transparan yang dapat dianalisis penegak hukum secara efektif.



