


Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Minggu (9/8) secara tegas menolak peluang untuk membuka kembali Selat Hormuz hingga Amerika Serikat memenuhi seluruh persyaratan yang diajukan. Berdasarkan laporan media lokal Iran, Press TV, jalur pelayaran strategis tersebut akan tetap ditutup rapat sampai AS menyetujui tuntutan yang mencakup ganti rugi $300 miliar, pencairan aset terblokir, larangan melintas bagi kapal AS dan Israel, hingga opsi biaya transit 7 persen.
​Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebi, turut menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz akan terus dipertahankan hingga pihak musuh menerima seluruh syarat tersebut. Sikap keras Iran ini sekaligus menepis klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut adanya kemajuan positif dalam proses penyelesaian konflik.
​Di sisi lain, Araghchi juga membantah keras anggapan bahwa Iran dan AS sedang melakukan negosiasi langsung. Berdasarkan laporan kantor berita Mehr, Araghchi mengklarifikasi bahwa komunikasi yang terjadi saat ini hanyalah pertukaran pesan melalui mediator dan bukan merupakan sebuah bentuk negosiasi formal.
​Araghchi menegaskan bahwa diplomasi tidak akan pernah terwujud selama AS masih terus melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan sementara atau nota kesepahaman (MoU). Meskipun pihak mediator terus berupaya membangun ruang dialog, Iran bersikeras tidak akan memulai kembali negosiasi sebelum AS menghentikan seluruh pelanggaran dan memberikan kompensasi penuh atas kerugian yang ditimbulkan.
Stay Updated
Follow Cryptowave di Google News
Dapatkan berita kripto, blockchain, dan WEB3 terbaru setiap hari langsung dari Google News Cryptowave.