


Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) resmi mengumumkan peluncuran gelombang serangan udara tambahan terhadap sejumlah target di dalam wilayah Iran pada Rabu (10/6) sore sekitar pukul 17.15 waktu setempat (ET). Berdasarkan pernyataan resmi CENTCOM, operasi militer ini diperintahkan langsung oleh Presiden AS selaku Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata sebagai respons atas rangkaian agresivitas yang terus dilakukan oleh pihak Iran. Langkah konfrontasi langsung ini menandai eskalasi konflik geopolitik paling serius di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir.
​Berdasarkan pantauan Al Arabiya, sejumlah ledakan hebat dan aktivitas militer mulai dilaporkan di berbagai titik strategis Iran. Media lokal Tasnim dan Mehr News Agency mengonfirmasi adanya suara jet tempur di Provinsi Isfahan serta sedikitnya empat ledakan besar di kota Sirik yang terletak di bagian selatan negara tersebut. Otoritas pertahanan udara Iran dilaporkan langsung mengaktifkan sistem rudal penangkis mereka di wilayah Asaluyeh, Provinsi Bushehr, hingga ke wilayah barat ibu kota Tehran guna mengantisipasi serangan susulan.
​Dampak dari eskalasi militer ini langsung memicu status darurat di wilayah sekitar Iran. Kedutaan Besar AS di Baghdad telah mengeluarkan peringatan darurat yang mendesak seluruh warga negara Amerika Serikat untuk segera meninggalkan Irak demi keselamatan mereka. Selain membombardir pesisir selatan Iran di dekat Selat Hormuz, laporan intelijen juga mendeteksi adanya aktivitas ledakan terpisah di dalam Kamp Soulban yang berada di Aden, Yaman, menunjukkan bahwa skala operasi pertahanan ini meluas hingga ke jaringan proksi regional.