


​Situasi di Timur Tengah kembali memanas menjadi konflik militer terbuka setelah Presiden AS Donald Trump resmi menyetujui dan memerintahkan operasi serangan udara terhadap Iran pada Rabu (8/7) waktu setempat. Perintah tersebut dikeluarkan langsung oleh Trump di sela-sela agenda kehadirannya dalam KTT NATO yang berlangsung di Turki.
​Pihak Militer AS mengonfirmasi bahwa mereka telah mulai meluncurkan rangkaian serangan kuat ke beberapa titik strategis di wilayah Iran. AS menegaskan operasi militer ini merupakan aksi balasan atas tindakan Iran sebelumnya yang menyerang tiga kapal komersial di Selat Hormuz.
​Laporan dari kantor berita lokal Iran, Mehr News Agency, menyebutkan bahwa sumber di lapangan mendengar dentuman ledakan beruntun di sekitar wilayah Qeshm dan Sirik. Sementara itu, kantor berita semi-pemerintah Fars News Agency melaporkan kepulan asap hitam pekat membubung di belakang pasar ikan Bandar Abbas akibat proyektil musuh yang menghantam dermaga dan membakar kapal-kapal nelayan setempat.
​Merespons gempuran tersebut, laporan awal mengindikasikan bahwa Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran telah diperintahkan untuk menutup total Selat Hormuz dan menghentikan seluruh lalu lintas pelayaran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Meski belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah pusat, pihak Iran bersumpah akan mengambil tindakan tegas lanjutan demi melindungi kepentingan nasional mereka.