Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas menyusul laporan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk kembali menyerang Iran langsung setelah Pemilu Sela AS. Melansir laporan Axios pada Minggu (01/11) mengungkap, komunikasi antara kedua pemimpin itu berjalan alot dan disebut keras oleh pihak Israel, sementara AS memilih menyebutnya sebagai pembicaraan yang berlangsung secara tegas dan tidak bertele-tele.
​Di sisi lain, Presiden Trump sempat menyiratkan bahwa AS masih punya urusan yang harus "diselesaikan" terkait satu atau dua fasilitas nuklir di Iran. Rencana serangan lanjutan ini sontak membuat kawasan Teluk panik karena khawatir terseret ke dalam pusaran perang terbuka dan tidak terkontrol lagi.
​Lewat ajang KTT IISS Manama Dialogue di Bahrain pada Sabtu (31/10), sejumlah negara Teluk melayangkan peringatan keras. Penasihat Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash, menegaskan bahwa negaranya sudah berupaya keras meredakan krisis, tapi justru terancam terseret dan kini sangat membutuhkan jalur diplomasi yang jelas (political off-ramp).
​Kekhawatiran para pejabat regional ini beralasan, mengingat Iran dikabarkan sudah kembali menimbun kekuatan rudal dan drone dalam jumlah besar. Terlebih lagi, sistem pertahanan udara negara-negara Teluk terpantau masih rapuh dan menipis per Minggu (01/11) pasca-konflik sebelumnya, membuat kilang minyak dan infrastruktur vital mereka sangat rentan jika Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran ke infrastruktur energi milik mereka.



