asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
ALLOUSDT0.3983+0.0344 ( +9.45% )
BTCUSDT64,565.9-276.23 ( -0.43% )
ETHUSDT1,913.9+30.86 ( +1.64% )
HUSDT0.05762-0.01046 ( -15.36% )
HEIUSDT0.1058+0.0012 ( +1.15% )
HYPEUSDT66.482+0.7 ( +1.06% )
IAGUSDT0.023+0.00177 ( +8.34% )
SOLUSDT76.82-0.83 ( -1.07% )
XRPUSDT1.1098+0.0015 ( +0.14% )
Powered by
News - Regulation

Pajak Spot Jadi Beban, Trader Kripto India Beralih ke Futures

User
July 16, 2026 | 06:13 WIB
User
UpdatedDwi Cahyo
July 16, 2026 | 06:13 WIB
Pajak Spot Jadi Beban, Trader Kripto India Beralih ke Futures

​Kebijakan pajak kripto di India telah mengubah struktur industri kripto India secara signifikan. Berdasarkan laporan Moneycontrol pada Rabu (15/7), lebih dari 80% volume perdagangan kripto di bursa domestik India kini didominasi oleh kontrak futures dan derivatif. Sebaliknya, volume perdagangan spot telah anjlok drastis sejak tahun 2022.

​Pergeseran ini dipicu oleh penerapan pajak 1% Tax Deducted at Source (TDS) untuk setiap transaksi spot kripto. Pajak ini dinilai sangat membebani karena mengunci modal kerja dan membuat frekuensi jual-beli aset menjadi sangat mahal bagi para trader aktif. Di sisi lain, kontrak futures yang melacak harga tanpa perpindahan kepemilikan aset dasar tidak dikenakan potongan TDS 1%. Celah arbitrase pajak inilah yang mendorong aktivitas pasar berpindah ke instrumen futures yang cenderung lebih cair bagi trader ritel.

​Migrasi ini membawa risiko finansial yang tinggi bagi investor ritel yang mendominasi sekitar 70% perdagangan futures kripto di India. Estimasi industri menunjukkan bahwa 70% hingga 80% trader ritel di sektor ini mengalami kerugian. Risiko kian diperparah oleh penggunaan leverage tinggi yang mencapai hingga 100 kali lipat di beberapa bursa, membuat posisi trader sangat rentan terhadap pergerakan pasar yang kecil.

Hingga kini, aset kripto di India belum memiliki definisi hukum yang jelas, sehingga regulator pasar modal (SEBI) maupun Bank Sentral India (RBI) tidak memiliki kewenangan langsung terhadap perdagangan derivatif kripto. Situasi ini mendorong sekitar 75% volume perdagangan kripto warga India kabur ke bursa global untuk menghindari beban pajak.

Copiedbagikan