

.png)
.png)

Presiden RI Prabowo Subianto kembali menegaskan visi ekonominya dalam wawancara eksklusif bersama Bloomberg News yang dilakukan di kediamannya di Hambalang, Jawa Barat, pada Maret 2026. Dalam percakapan panjang tersebut, Prabowo mengakui bahwa sebagian pelaku pasar global dan elite bisnis domestik belum sepenuhnya memahami pendekatan ekonomi yang sedang dijalankan pemerintahannya.
Dalam wawancara itu, Prabowo menegaskan komitmennya terhadap disiplin fiskal dengan mempertahankan batas defisit anggaran maksimal 3% dari PDB. Ia menyebut aturan tersebut sebagai alat penting untuk menjaga stabilitas fiskal negara. Pemerintah, menurutnya, tidak akan melampaui batas tersebut kecuali dalam kondisi darurat besar seperti pandemi atau lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik.
Prabowo juga menyinggung gejolak pasar saham Indonesia pada awal 2026 yang disebut sebagai penurunan terbesar sejak krisis 1998. Ia mengkritik keras pejabat yang dinilai lalai menanggapi peringatan dari MSCI terkait transparansi pasar dan potensi manipulasi perdagangan. Menurutnya, kelalaian tersebut merugikan investor ritel dan mencoreng reputasi pasar keuangan Indonesia.
Meski menghadapi tekanan pasar, Prabowo menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi 8% hingga akhir masa jabatannya pada 2029 tetap menjadi prioritas. Untuk mencapainya, pemerintah akan fokus pada pemberantasan korupsi, perbaikan tata kelola BUMN, percepatan hilirisasi industri, serta transisi energi menuju sumber terbarukan. Ia juga menilai program makan bergizi gratis dapat mendorong konsumsi domestik dan memperkuat ekonomi dari sisi permintaan.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga membela pembentukan Danantara Indonesia, yang ia sebut sebagai lembaga investasi negara dengan pengawasan paling ketat. Ia menargetkan dana tersebut dapat mengelola aset hingga $1 triliun dengan potensi imbal hasil sekitar 5% per tahun, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi besar bagi kas negara.
Menanggapi kritik terkait penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, Prabowo menepis tudingan nepotisme. Ia menyatakan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada kompetensi dan kepercayaan, sembari menegaskan bahwa independensi bank sentral tetap harus dijaga.
Prabowo menutup wawancara dengan nada optimistis, menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski pasar sempat mengalami tekanan. Ia meyakini investor global pada akhirnya akan melihat potensi ekonomi Indonesia secara lebih objektif.