Total pasokan Ether yang di-stake di jaringan Ethereum melonjak hingga 34%, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high). Angka ini meningkat pesat dari kisaran 29% pada awal tahun. Pantauan data on-chain dan SoSoValue per 10 Agustus 2026 menunjukkan penguatan serapan pasokan dari dua lini utama: penyerapan staking jaringan serta net inflows ETF spot Ethereum yang terus berlanjut hingga menembus angka akumulasi $11,46 miliar. Namun, lonjakan partisipasi yang kini menembus sepertiga pasokan ETH ini mulai memicu diskusi hangat mengenai keberlanjutan skema imbal hasil (yield) asli jaringan.
​Tingginya partisipasi ini memicu kembali topik hangat terkait proposal EIP-8361 bertajuk tapered issuance burn yang diajukan oleh TIm Riset Ethereum Justin Drake bersama timnya pada Selasa (4/8). Aturan ini dirancang untuk membakar porsi reward validator secara bertahap seiring meningkatnya rasio staking. Jika porsi ETH yang di-stake menyentuh 50% dari total pasokan, tingkat pembakaran akan mencapai 100%, sehingga menghentikan seluruh penerbitan token baru bagi validator. Dengan rasio staking saat ini, imbal hasil tahunan validator diproyeksikan merosot dari 2,6% menjadi 1,2% secara bertahap selama 18 bulan.
​Pemotongan yield ini diperkirakan berdampak langsung pada perusahaan treasury ETH seperti Bitmine dan Sharplink. Berbeda dari perusahaan treasury Bitcoin, entitas penyimpan ETH mengandalkan imbal hasil staking sebagai nilai tambah utama. Jika skema insentif ini dipangkas, pendapatan perusahaan dapat menyusut hingga separuhnya, sehingga berisiko menekan daya tarik investasi pada instrumen treasury berbasis Ethereum.



