

.png)
.png)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan akan terus melanjutkan agenda reformasi pasar modal Indonesia setelah hasil terbaru MSCI kembali menyoroti sejumlah isu terkait transparansi dan aksesibilitas pasar. OJK menilai evaluasi tersebut menjadi masukan penting untuk meningkatkan daya saing pasar modal domestik di tingkat global.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa hasil MSCI Accessibility Review merupakan bagian dari evaluasi rutin yang dilakukan terhadap berbagai bursa di dunia, bukan hanya Indonesia. OJK juga mengungkapkan telah melakukan koordinasi dan menyerahkan berbagai data pendukung kepada MSCI sebelum proses penilaian dilakukan.
Dalam laporan terbarunya, MSCI kembali menyoroti isu keterbukaan informasi kepemilikan saham, transparansi pasar, serta indikasi aktivitas perdagangan yang terkoordinasi. MSCI bahkan menurunkan penilaian Indonesia pada aspek information flow menjadi negatif, meskipun Indonesia masih mempertahankan status sebagai emerging market.
OJK menegaskan bahwa berbagai langkah reformasi telah dijalankan untuk menjawab kekhawatiran tersebut. Beberapa kebijakan yang telah diterapkan antara lain peningkatan persyaratan free float, penguatan transparansi kepemilikan saham, serta peningkatan standar tata kelola emiten dan integritas pasar modal.
Menurut OJK, reformasi yang dilakukan memang dapat menimbulkan konsekuensi jangka pendek terhadap sejumlah saham dan indeks. Namun langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan fondasi pasar modal yang lebih sehat, transparan, dan menarik bagi investor global dalam jangka panjang.
Pelaku pasar kini menantikan pengumuman MSCI Market Classification yang dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan. Keputusan tersebut akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi sentimen investor asing dan arah pasar modal Indonesia ke depan.