

.png)
.png)

Nilai tukar Rupiah kembali melemah tajam hingga menyentuh level sekitar Rp17.300 per dolar Amerika Serikat, mencerminkan tekanan besar dari faktor global dan domestik.
Salah satu pemicu utama pelemahan ini adalah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya konflik Iran yang mendorong lonjakan harga energi dan memicu ketidakpastian pasar global.
Kondisi ini menyebabkan arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor cenderung mencari aset yang lebih aman seperti dolar AS.
Selain itu, kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat juga menjadi faktor penting. Ketika suku bunga AS tetap tinggi, dana global cenderung mengalir ke sana, sehingga menekan mata uang negara lain.
Di sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan impor energi serta potensi kenaikan subsidi pemerintah akibat lonjakan harga minyak.
Kombinasi antara capital outflow, inflasi yang meningkat, dan ketidakpastian global membuat ruang kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Bank sentral pun berada dalam posisi sulit antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Secara historis, rupiah memang dikenal sebagai mata uang yang sensitif terhadap gejolak global, terutama yang berkaitan dengan energi dan arus modal.