


​Sejumlah scammer dilaporkan mulai memanfaatkan konflik geopolitik di Selat Hormuz untuk memeras perusahaan pelayaran internasional. Berdasarkan laporan firma risiko maritim MARISKS pada Senin (20/4), para pelaku mengirimkan pesan palsu yang mencatut nama otoritas keamanan Iran untuk meminta pembayaran dalam bentuk Bitcoin atau USDT. Uang tersebut diklaim sebagai biaya pembersihan atau izin agar ratusan kapal yang saat ini terjebak di jalur barat Selat Hormuz bisa melintas dengan aman.
​Aksi penipuan ini terjadi di tengah situasi genting di mana Amerika Serikat melakukan blokade selat Hormuz, sementara Iran juga masih menutup jalur perdagangan minyak paling vital tersebut. Para scammer menjanjikan jaminan keamanan bagi kapal untuk melewati blokade tanpa hambatan jika membayar tarif tertentu. MARISKS bahkan mencatat sebuah insiden fatal pada 18 April 2026, di mana sebuah kapal terkena tembakan dari perahu Iran setelah diduga menjadi target dari skema penipuan ini.
​Modus ini muncul menyusul wacana pemerintah Iran yang memang sempat mengusulkan pungutan resmi kripto hingga $2 juta per tanker untuk biaya lintas. Namun, para pakar memperingatkan bahwa pesan yang beredar saat ini murni merupakan eksploitasi oleh aktor kriminal di tengah ketidakpastian gencatan senjata yang akan berakhir pada 23 April 2026. Perusahaan pelayaran kini diperingatkan untuk memperketat protokol keamanan komunikasi guna menghindari jebakan scammer yang memanfaatkan konflik Timur Tengah tersebut.