


Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran “sebagian besar telah dinegosiasikan” dan pengumuman resmi diperkirakan akan dilakukan dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut memicu optimisme baru di tengah ketegangan geopolitik yang telah mengguncang pasar energi global selama beberapa bulan terakhir.
Trump mengatakan bahwa salah satu poin utama dalam kesepakatan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia yang selama ini mengalami gangguan sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.
“Selain banyak elemen lain dalam perjanjian ini, Selat Hormuz akan dibuka kembali,” tulis Trump melalui media sosialnya.
Pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa pembicaraan damai dengan Amerika Serikat mengalami kemajuan signifikan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut draf final perjanjian kini tengah ditinjau kedua pihak.
“Dalam sepekan terakhir, proses negosiasi bergerak menuju konvergensi pandangan,” ujar Baghaei melalui televisi pemerintah Iran.
Kesepakatan ini didorong oleh mediasi sejumlah negara Arab dan Pakistan yang berupaya memperpanjang gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung selama enam minggu terakhir.
Meski demikian, sejumlah isu besar masih belum menemukan titik temu. Amerika Serikat tetap menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan meminta Teheran menyerahkan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi. Sementara itu, Iran menolak menghentikan program pengayaan uranium dan menuntut keringanan sanksi ekonomi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan terdapat “kemajuan” dalam negosiasi dan pengumuman resmi berpotensi dilakukan dalam beberapa hari mendatang.
“Presiden selalu memilih solusi diplomatik yang dinegosiasikan untuk menyelesaikan masalah seperti ini,” ujar Rubio.
Selain isu nuklir, kedua negara juga masih harus menyepakati mekanisme pengelolaan Selat Hormuz, termasuk rencana Iran untuk mengenakan biaya terhadap kapal yang melintas di jalur tersebut.
Perkembangan ini menjadi sorotan utama pasar global mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. Pembukaan kembali selat tersebut berpotensi menurunkan ketegangan pasokan energi sekaligus memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan global dan aset berisiko termasuk crypto.