


Telegram resmi mengajukan proposal governance melalui platform TON Vote pada Senin (1/6) untuk mengubah nama token native mereka dari Toncoin (TON) kembali menjadi Gram (GRAM). Sebagai bagian keempat dari roadmap "Make TON Great Again" (MTONGA), proses voting komunitas ini dijadwalkan berlangsung hingga 8 Juni 2026. Sejauh ini, dukungan awal terpantau sangat kuat dengan 85,3% suara menyatakan setuju. Perubahan ini nantinya hanya mencakup nama dan ticker aset, sementara jaringan blockchain utamanya akan tetap beroperasi dengan nama TON atau The Open Network.
​Kembalinya nama Gram ini seakan menarik identitas proyek ke akar aslinya, merujuk pada rumusan awal whitepaper Telegram di tahun 2018. Meski proyek ini sempat terhenti akibat intervensi regulasi SEC pada 2020 dan dilanjutkan secara independen oleh komunitas, Telegram kini kembali mengambil posisi sebagai penggerak utama sekaligus validator terbesar di jaringan TON. Reposisi struktural inilah yang menjadi motivasi utama di balik upaya rebranding ini. Terlebih lagi, langkah tersebut didukung oleh pencapaian teknis protokol yang kini diklaim berjalan 10 kali lebih cepat, dengan efisiensi biaya transaksi yang terpangkas hingga nyaris nol.
​Rilisnya proposal rebranding ini langsung direspons positif oleh pasar, memicu pergerakan harga Toncoin untuk mencetak reli hingga 16% dalam 24 jam terakhir. Di tengah tingginya antusiasme tersebut, pihak developer menargetkan transisi nama di seluruh ekosistem seperti wallet, bursa kripto (CEX), dan jaringan mitra dapat rampung dalam dua minggu jika proposal ini lolos dengan persetujuan di atas 50%. Mengingat kebijakan ini murni sekadar perubahan tampilan identitas, para holder dipastikan tidak perlu melakukan mekanisme swap, migrasi, maupun klaim aset secara manual. Komunitas dan pelaku industri juga diimbau untuk waspada terhadap potensi modus penipuan yang memanfaatkan momen transisi ini.