


​Sekitar sepuluh persen dari total pasokan Bitcoin, atau setara dengan 1,92 juta BTC, dilaporkan rentan secara struktural terhadap ancaman teknologi komputer kuantum. Melansir laporan forensik on-chain teranyar dari Glassnode pada Rabu (20/5), risiko ini bersumber dari desain beberapa jenis alamat lama era Satoshi Nakamoto maupun arsitektur modern yang mengekspos public key pemiliknya secara terbuka ke jaringan. Aset yang paling terancam mencakup 1,1 juta BTC di wallet lama milik Satoshi serta ratusan ribu koin lain di infrastruktur lawas.
​Secara teknis, kerentanan struktural ini meliputi format Pay-to-Public-Key (P2PK), Pay-to-Multisig (P2MS), hingga format mutakhir Pay-to-Taproot (P2TR) karena datanya dapat dibaca mudah oleh sistem luar. Jika komputasi kuantum masa depan berhasil mematahkan algoritma kriptografi kurva eliptik, alamat-alamat tersebut berpotensi menjadi target pembobolan. Meski begitu, Glassnode menegaskan risiko ini bukan ancaman jangka pendek karena kapasitas komputer kuantum saat ini belum cukup kuat untuk memecahkan enkripsi Bitcoin.
​Guna mengantisipasi risiko jangka panjang tersebut, developer kini mempercepat diskusi transisi menuju sistem kriptografi pascakuantum melalui proposal BIP-360. Proposal ini memperkenalkan format baru bernama Pay-to-Merkle-Root (P2MR) untuk menghapus jalur pembelanjaan Taproot yang rentan kuantum. Format alternatif ini akan menjadi landasan utama agar para pemegang aset lama dapat melakukan migrasi saldo secara sukarela ke infrastruktur wallet baru yang jauh lebih aman.