


​Delegasi negosiasi Iran resmi meninggalkan lokasi perundingan di Swiss sebagai bentuk protes atas ancaman yang dilontarkan oleh Donald Trump. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa ancaman tersebut telah melanggar Nota Kesepahaman (MoU) tanggal 18 Juni yang melarang penggunaan ancaman maupun kekuatan militer.
​Aksi walk out ini dipicu oleh pernyataan Presiden Trump melalui platform Truth Social pada Minggu (21/6) yang memperingatkan Iran untuk segera menghentikan aktivitas kelompok proksinya di Lebanon. Dalam unggahan tersebut, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menyerang Iran kembali dengan intensitas yang lebih keras jika peringatan itu diabaikan. Merespons eskalasi ini, seorang anggota delegasi negosiasi Iran di Swiss menegaskan bahwa pembicaraan tidak akan bergerak maju kecuali perang di Lebanon diakhiri. Kantor berita ISNA juga melaporkan peringatan dari pihak Iran bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran bisa batal jika militer Israel tidak segera meninggalkan Lebanon selatan.
​Sebelum memutuskan untuk meninggalkan meja perundingan, delegasi Iran diketahui sempat membahas berkas pembekuan aset bersama perwakilan Qatar. Seorang anggota tim negosiasi Iran menyampaikan kepada media pemerintah bahwa langkah-langkah operasional untuk mencairkan aset Iran yang dibekukan telah dilaksanakan dengan partisipasi langsung dari delegasi Qatar.
​Sementara itu, situasi di Timur Tengah semakin memanas setelah Israel tetap kukuh tidak akan menarik mundur pasukannya dari wilayah Lebanon selatan. Pernyataan keras dari Menteri Pertahanan Israel yang menolak penarikan mundur tersebut dinilai memperkeruh ketegangan, sehingga posisi diplomasi di Swiss akhirnya menemui titik buntu.