​Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah aksi saling serang militer terbuka kembali pecah di kawasan Timur Tengah. Donald Trump secara terbuka melabeli Iran sebagai negara gagal atau failed nation melalui unggahan di akun Truth Social miliknya pada Senin (31/8). Trump melontarkan klaim keras bahwa sektor militer, mata uang, serta struktur pemerintahan Iran kini berada di ambang keruntuhan total.
​Dalam pernyataannya, Trump menyoroti kekacauan kepemimpinan di Iran dan menuding laju inflasi Iran telah menembus 300%, menyebabkan aparat keamanan hingga tentara tidak lagi menerima gaji. Ia juga menuduh otoritas Iran bertanggung jawab atas kematian lebih dari 100.000 demonstran serta menyerukan agar pihak-pihak terkait diseret ke pengadilan atas dugaan kejahatan perang terhadap kemanusiaan, kendati rincian data angka tersebut belum diverifikasi secara independen.
​Retorika tajam AS mencuat tak lama setelah eskalasi militer langsung terjadi di lapangan. Pasukan AS sebelumnya melancarkan serangan udara terhadap infrastruktur militer Iran di Selat Hormuz, yang menjadi operasi militer terbuka pertama AS terhadap Iran sejak akhir Juli lalu. Aksi ofensif tersebut langsung direspons oleh Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC dengan menembakkan rentetan rudal balistik yang menargetkan pangkalan udara militer AS di Yordania.
​Saling serang rudal ini langsung mengerek harga minyak mentah AS. Pelaku pasar kini bersiap menghadapi potensi gangguan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz seiring janji aksi balasan lanjutan dari IRGC.



