asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
AIAUSDT0.223989-0.000022 ( -0.01% )
BTCUSDT89,606.9-392.4 ( -0.44% )
ETHUSDT2,953.85-56.2 ( -1.87% )
HYPEUSDT21.64-0.27 ( -1.23% )
PAXGUSDT4,973.72+162.43 ( +3.38% )
SOLUSDT128.44-1.83 ( -1.41% )
XAUTUSDT4,960.7+167.29 ( +3.49% )
XRUSDT0.0076-0.00167 ( -18.03% )
XRPUSDT1.9199-0.0405 ( -2.07% )
Powered by
News

Trump Tahan Opsi Serangan ke Iran, Klaim Penindasan Demonstran Mulai Berhenti

User
January 15, 2026 | 13:17 WIB
User
UpdatedBenny Hawe
January 15, 2026 | 13:17 WIB
Trump Tahan Opsi Serangan ke Iran, Klaim Penindasan Demonstran Mulai Berhenti

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal akan menahan diri dari serangan militer lanjutan terhadap Iran, setidaknya untuk sementara waktu, setelah mengaku mendapat informasi bahwa pemerintah di Teheran telah menghentikan pembunuhan terhadap warga sipil yang terlibat dalam gelombang demonstrasi besar.

Dalam pernyataannya kepada wartawan di Ruang Oval yang dikutip oleh Bloomberg, Trump mengatakan dirinya menerima “pernyataan yang sangat baik” dari sumber-sumber yang ia sebut berada “di pihak seberang”, yang meyakinkannya bahwa tindakan represif terhadap para demonstran telah dihentikan. Trump menegaskan akan “mengawasi situasi” dan melihat bagaimana proses ke depan sebelum mengambil keputusan lebih lanjut terkait opsi militer.

Pernyataan tersebut menandai perubahan nada dibandingkan sehari sebelumnya, ketika Trump secara terbuka menyerukan warga Iran untuk terus melakukan protes terhadap pemerintahan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan “bertindak sesuai perkembangan”. Melalui media sosial, Trump bahkan sempat menulis bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan”.

Situasi di Iran saat ini disebut sebagai gelombang pemberontakan rakyat terbesar sejak Revolusi 1979, dengan unjuk rasa meluas dan penindasan berdarah oleh aparat negara yang memicu instabilitas domestik sekaligus kekhawatiran regional, termasuk potensi dampak terhadap pasar energi global. Tekanan internasional pun meningkat, dengan sejumlah kelompok di luar Iran mendesak Washington untuk ikut campur.

Michael Makovsky, Presiden dan CEO Jewish Institute for National Security of America, dalam pernyataan resminya menyebut bahwa meskipun masa depan Iran harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri, Amerika Serikat “harus membantu rakyat Iran menjatuhkan rezim” demi menjaga kredibilitas komitmen publik Trump. Sementara itu, analis Foundation for Defense of Democracies Ahmad Sharawi memperingatkan bahwa sejarah akan menghakimi keras AS jika gagal bertindak, bahkan menyarankan opsi eskalasi militer terbatas apabila pembunuhan massal warga sipil berlanjut.

Meski demikian, Trump juga meragukan solidnya dukungan domestik terhadap figur oposisi Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, sebagaimana ia sampaikan dalam wawancara dengan Reuters. Trump menyatakan tidak yakin apakah rakyat Iran akan menerima kepemimpinan Pahlavi, mengingat tokoh tersebut telah lama tinggal di luar negeri.

Di sisi lain, ketegangan militer tetap terasa. Pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa AS telah merelokasi sebagian personel militernya di Qatar dan pangkalan lain di kawasan, menyusul ancaman Iran terhadap aset AS. Langkah ini mengingatkan pada pola yang terjadi menjelang serangan udara AS ke Iran pada Juni lalu, sehingga memicu spekulasi bahwa opsi militer masih berada di atas meja.

Iran sendiri telah memperingatkan Amerika Serikat dan Israel, yang sebelumnya berkoordinasi dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, agar tidak mencoba melakukan intervensi di tengah situasi kerusuhan domestik. Para analis pertahanan Bloomberg menyebut bahwa potensi target AS, jika eskalasi terjadi, bisa mencakup fasilitas keamanan internal, pabrik rudal, hingga operasi presisi terhadap figur militer kunci.

Untuk saat ini, Trump menegaskan pendekatan wait and see, sembari menyatakan akan sangat marah apabila penindasan kembali berlanjut. Pasar global dan komunitas internasional kini mencermati apakah klaim penghentian kekerasan di Iran benar-benar bertahan, atau justru menjadi jeda singkat sebelum eskalasi baru terjadi.

Copiedbagikan