Total utang nasional Amerika Serikat mencatat sejarah baru dengan menembus angka psikologis $40 triliun pada 18 Agustus 2026. Laju penambahan utang ini terbilang sangat agresif, di mana pemerintah federal mencetak utang baru sebesar $1 triliun hanya dalam waktu lima bulan sejak menyentuh $39 triliun pada Maret lalu. Kondisi ini turut diperparah oleh defisit fiskal yang terus melebar menjadi $1,8 triliun per Juli tahun ini akibat ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran negara.
​Dari total tumpukan utang tersebut, fokus utama para analis kini tertuju pada beban pembayaran bunga tahunan yang telah melampaui $1 triliun. Angka fantastis ini menjadikan pembayaran bunga utang sebagai pengeluaran terbesar kedua dalam anggaran federal, bahkan sukses mengalahkan alokasi dana untuk pertahanan militer nasional. Tingginya porsi pendapatan negara yang tersedot hanya untuk membayar bunga ini memicu peringatan serius, karena ruang gerak pemerintah akan semakin sempit untuk merespons krisis ekonomi di masa depan.
​Bagi pasar keuangan, tren utang AS yang tak terkendali ini merupakan bom waktu yang siap memicu guncangan. Tingginya pasokan utang cenderung mendorong naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah yang berujung pada meroketnya biaya pinjaman secara meluas. Mengingat batas utang baru (debt ceiling) di level $41,1 triliun diproyeksikan akan tersentuh pada awal 2027, pasar aset berisiko harus bersiap menghadapi lonjakan volatilitas tajam jauh sebelum tenggat waktu negosiasi tersebut tiba.



