


​Pemerintah Iran resmi menyerahkan proposal balasan berisi 10 poin kepada Amerika Serikat (AS) melalui perantara pemerintah Pakistan untuk mengakhiri konflik di kawasan. Melalui laporan The New York Times pada Selasa (07/04), proposal tersebut mencakup tuntutan penghentian seluruh serangan, pencabutan sanksi secara penuh, hingga jaminan keamanan agar Iran tidak diserang lagi di masa depan. Langkah ini diambil Teheran hanya 25 jam sebelum tenggat waktu perjanjian damai yang ditetapkan oleh Presiden Donald Trump berakhir.
​Sebagai konsesi, Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz namun dengan pengenaan biaya lintas (Hormuz fee) sekitar $2 juta per kapal. Menanggapi tuntutan "maksimalis" tersebut, Presiden Trump memberikan peringatan keras bahwa seluruh wilayah Iran bisa dihancurkan hanya dalam satu malam. Situasi ini memicu ketidakpastian ekstrem di jalur perdagangan energi dunia, mengingat ancaman Trump yang mengisyaratkan serangan militer besar-besaran bisa terjadi besok malam saat tenggat waktu berakhir.
​Berikut adalah 10 poin tuntutan utama dalam proposal Iran:
​Jaminan bahwa Iran tidak akan diserang lagi di masa depan.
​Penghentian perang secara permanen, bukan sekadar gencatan senjata.
​Penghentian seluruh serangan Israel di wilayah Lebanon.
​Pencabutan seluruh sanksi Amerika Serikat terhadap Iran.
​Penghentian semua pertempuran regional melawan sekutu-sekutu Iran.
​Sebagai imbalan, Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz.
​Iran akan memberlakukan biaya lintas (Hormuz fee) sebesar $2 juta per kapal.
​Iran akan membagi pendapatan biaya lintas tersebut dengan pemerintah Oman.
​Iran akan menetapkan aturan dan protokol sendiri untuk jalur pelayaran aman di Hormuz.
​Iran akan menggunakan biaya tersebut untuk dana rekonstruksi, bukan sebagai reparasi perang.