asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
BANKUSDT0.35056+0.00935 ( +2.74% )
BTCUSDT63,310.0-1651.98 ( -2.54% )
COTIUSDT0.01157+0.00383 ( +49.48% )
DEXEUSDT3.307+0.834 ( +33.72% )
ETHUSDT1,883.93-68.61 ( -3.51% )
HYPEUSDT54.209-5.26 ( -8.84% )
SHIBUSDT0.00000462-0.00000037 ( -7.42% )
SOLUSDT73.0-3.52 ( -4.6% )
XRPUSDT1.0521-0.0511 ( -4.63% )
Powered by
News

Adopsi Kripto AS Rebound ke 12%, Namun Ritel Masih Ragu Bitcoin Tembus Rekor Baru

User
April 21, 2026 | 00:07 WIB
User
UpdatedDwi Cahyo
April 21, 2026 | 00:07 WIB
Adopsi Kripto AS Rebound ke 12%, Namun Ritel Masih Ragu Bitcoin Tembus Rekor Baru

Survei terbaru dari Deutsche Bank menunjukkan adopsi kripto di Amerika Serikat kembali pulih ke angka 12% pada Maret, naik signifikan dari titik terendah 7% di bulan Februari. Pemulihan ini membawa tingkat adopsi kembali ke level Juli 2025, yang didorong oleh arus masuk modal institusional ke Bitcoin ETF sebesar $1,3 miliar. Meski demikian, sentimen market masih tetap waspada setelah kuartal pertama 2026 yang diwarnai guncangan makro dan geopolitik yang sempat menekan harga Bitcoin hingga turun 22%.

​Meskipun adopsi meningkat, mayoritas investor ritel di AS, Inggris, dan Uni Eropa tetap lebih memilih emas dan indeks S&P 500 sebagai instrumen investasi jangka panjang (1-3 tahun). Di Amerika Serikat, persaingan pilihan aset terlihat cukup ketat dengan S&P 500 memimpin di angka 29%, disusul emas 26%, dan Bitcoin di posisi 24%. Bitcoin tetap mendominasi ruang aset digital dengan tingkat kepemilikan mencapai 70%, jauh mengungguli Ethereum dan stablecoin seperti Tether (USDT) maupun USDC.

​Menariknya, survei ini mengungkap pandangan pesimistis terhadap harga Bitcoin di masa depan. Mayoritas responden memprediksi harga Bitcoin pada akhir 2026 akan lebih rendah dari level saat ini di kisaran $75.000. Hanya 3% responden di AS yang percaya Bitcoin akan mampu kembali ke rekor tertinggi (ATH) di level $120.000. Hal ini mengindikasikan bahwa meski adopsi meluas secara angka, kepercayaan ritel terhadap lonjakan harga yang eksponensial masih sangat terbatas.

Copiedbagikan