asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
ALLOUSDT0.3882-0.0065 ( -1.65% )
BTCUSDT63,442.0+466.65 ( +0.74% )
DUSDT0.00568+0.00044 ( +8.4% )
EPICUSDT0.62+0.072 ( +13.14% )
ETHUSDT1,672.07+9.06 ( +0.55% )
HMSTRUSDT0.0003493+0.0001195 ( +52.0% )
HOMEUSDT0.03087-0.00568 ( -15.54% )
HYPEUSDT58.055+1.86 ( +3.31% )
SOLUSDT66.88+1.42 ( +2.17% )
Powered by
News - Regulation

BI Awasi Ketat Bank Internasional Terkait Spekulasi Dolar

User
June 12, 2026 | 14:16 WIB
User
UpdatedBenny Hawe
June 12, 2026 | 14:16 WIB
BI Awasi Ketat Bank Internasional Terkait Spekulasi Dolar

Bank Indonesia (BI) dilaporkan memperketat pengawasan terhadap aktivitas perdagangan valuta asing yang dilakukan bank-bank internasional dan lembaga keuangan domestik sebagai upaya menahan pelemahan rupiah yang terus berlanjut.

Menurut laporan Bloomberg, pengawasan difokuskan untuk memastikan transaksi pembelian dolar AS dilakukan untuk kebutuhan bisnis yang sah dan bukan untuk tujuan spekulatif. Langkah ini dilakukan setelah rupiah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun 2026.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo disebut telah menyampaikan kepada para pimpinan perbankan bahwa bank sentral memantau tujuh bank dengan volume transaksi valas terbesar. Selain itu, BI juga mendorong bank-bank internasional untuk membawa lebih banyak likuiditas dolar ke Indonesia guna membantu stabilitas pasar.

Dalam praktiknya, BI dikabarkan menempatkan petugas di dealing room sejumlah bank untuk memantau transaksi valuta asing secara langsung. Untuk transaksi pembelian dolar dalam jumlah besar, dealer bahkan dapat menerima panggilan dari bank sentral untuk menjelaskan detail transaksi, identitas nasabah, serta alasan pembelian valuta asing tersebut.

BI juga disebut melarang bank mengambil posisi long dolar dan melakukan transaksi spekulatif terhadap mata uang AS. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal dan meningkatnya permintaan dolar.

Pengawasan yang lebih ketat muncul setelah rupiah mencatat pelemahan signifikan sepanjang tahun ini. Selain tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan harga energi global, investor juga mencermati berbagai kebijakan ekonomi pemerintah yang memicu kekhawatiran terhadap prospek fiskal dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Bloomberg juga melaporkan bahwa sejumlah bank internasional menghadapi tantangan likuiditas dolar yang lebih ketat setelah pemerintah mewajibkan eksportir menyimpan devisa hasil ekspor di bank-bank milik negara. Kondisi tersebut membuat sebagian bank swasta dan asing mengalami keterbatasan pasokan dolar untuk kebutuhan operasional sehari-hari.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan secara mengejutkan dan memperkuat intervensi pasar. Langkah tersebut menunjukkan keseriusan bank sentral dalam menjaga stabilitas mata uang dan mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Copiedbagikan