

.png)
.png)

Departemen Perang Amerika Serikat dilaporkan mengajukan permintaan tambahan anggaran sebesar $80 miliar untuk menutupi biaya perang Iran serta sejumlah kebutuhan operasional lainnya. Nilai tersebut menjadi salah satu permintaan pendanaan militer terbesar yang diajukan pemerintahan Presiden Donald Trump sejak konflik dengan Iran dimulai awal tahun ini.
Menurut sejumlah laporan, kebutuhan dana tambahan tersebut mencakup biaya operasi militer, pengisian kembali persediaan amunisi, pemeliharaan kesiapan tempur, pelatihan militer, serta berbagai pengeluaran lain yang meningkat akibat konflik berkepanjangan. Pentagon sebelumnya memperingatkan bahwa kekurangan anggaran dapat memengaruhi kemampuan operasional militer jika tidak segera disetujui Kongres.
Permintaan $80 miliar ini jauh lebih rendah dibanding proposal awal Pentagon pada Maret lalu yang disebut-sebut mencapai lebih dari $200 miliar. Besarnya angka tersebut sempat memicu penolakan dari sebagian anggota Kongres karena dinilai terlalu membebani anggaran federal.
Perang Iran telah menjadi salah satu konflik paling mahal bagi Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Pada Mei 2026, Pentagon memperkirakan biaya perang telah mencapai sekitar $29 miliar dan terus meningkat seiring berlanjutnya operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Permintaan pendanaan baru ini muncul di tengah proses deeskalasi konflik setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani memorandum kesepahaman sementara yang membuka jalan menuju perjanjian damai yang lebih permanen. Meski demikian, kebutuhan untuk mengisi kembali stok persenjataan dan menjaga kesiapan militer masih menjadi prioritas pemerintah AS.
Proposal tersebut diperkirakan akan menghadapi perdebatan sengit di Kongres. Selain persoalan besaran anggaran, sejumlah anggota parlemen juga mempertanyakan dasar hukum pendanaan perang dan dampaknya terhadap defisit fiskal Amerika Serikat yang terus meningkat.