


​Departemen Keuangan AS (OFAC) menjatuhkan sanksi terhadap jaringan pekerja IT Korea Utara yang dituduh mendanai program senjata melalui sektor kripto. Dalam rilis Jumat (13/3), AS membekukan aset enam individu dan dua entitas yang terlibat dalam skema penipuan global. Jaringan ini diketahui menggunakan identitas palsu untuk menyusup ke industri blockchain dan mencuri aset digital secara masif.
​Salah satu pihak yang disanksi adalah Nguyen Quang Viet, CEO perusahaan asal Vietnam, yang diduga mencuci aset kripto senilai $2,5 juta hasil kegiatan ilegal tersebut. Selain individu, AS memasukkan 21 alamat dompet kripto di jaringan Ethereum dan Tron ke dalam daftar hitam. Langkah ini bertujuan memutus akses finansial para pelaku dari sistem keuangan AS dan mencegah transaksi dengan warga Amerika.
​Otoritas AS menyebut ancaman siber Pyongyang kian kompleks dengan metode lintas rantai (multi-chain). Pekerja IT Korea Utara dilaporkan sering menyamar sebagai tenaga profesional untuk menyisipkan malware di perusahaan kripto. Sanksi tegas ini merupakan bagian dari upaya global untuk melindungi integritas ekosistem aset digital dari pendanaan senjata ilegal