asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
BOOSTUSDT0.0001421-0.000024 ( -14.65% )
BTCUSDT67,900.8-1846.92 ( -2.65% )
DOGEUSDT0.0996-0.0031 ( -3.02% )
ETHUSDT1,969.3-36.65 ( -1.83% )
FHEUSDT0.04277+0.00145 ( +3.51% )
LABUBUUSDT0.0013679-0.000292 ( -17.57% )
PEPEUSDT0.00000441-0.00000014 ( -3.08% )
SOLUSDT84.56-1.63 ( -1.89% )
XRPUSDT1.4563-0.0486 ( -3.23% )
Powered by
News

Dulu Dikritik, Infrastruktur Mining Bitcoin Kini Jadi Rebutan Data Center AI

User
January 29, 2026 | 00:13 WIB
User
UpdatedDwi Cahyo
January 29, 2026 | 00:13 WIB
Dulu Dikritik, Infrastruktur Mining Bitcoin Kini Jadi Rebutan Data Center AI

​CEO Hashed, Simon Kim, menyoroti perubahan drastis dalam pandangan dunia terhadap industri mining Bitcoin. Jika dulunya fasilitas ini dikritik keras karena dianggap memboroskan energi, kini infrastruktur tersebut justru menjadi aset yang diperebutkan untuk menopang revolusi kecerdasan buatan (AI).

​Dalam pandangan terbarunya yang diunggah di platform X pada Rabu (28/1), Kim menjelaskan bahwa ledakan kebutuhan data center AI menghadapi kendala pasokan listrik dan sistem pendingin. Di sinilah industri mining Bitcoin masuk sebagai solusi cepat. Membangun data center AI baru dari nol membutuhkan waktu 3 hingga 6 tahun, sementara memodifikasi fasilitas mining Bitcoin yang sudah memiliki akses daya besar hanya memakan waktu 6 bulan.

​Kim mencontohkan tren baru di mana investor besar, termasuk dari Timur Tengah, mulai memborong perusahaan mining bukan untuk mencari BTC, melainkan untuk mengamankan infrastruktur energi bagi AI. Fenomena ini membuktikan bahwa mining Bitcoin telah berevolusi menjadi pondasi teknologi vital.

"Pertanyaannya harus berubah. Bukan lagi 'Berapa banyak listrik yang digunakan Bitcoin?', tetapi 'Seberapa jauh Bitcoin membuat jaringan listrik kita lebih efisien?'," tegasnya.

Copiedbagikan