​Hilangnya kepercayaan terhadap mata uang peso mendorong masyarakat Argentina beralih massal ke stablecoin dolar AS. Berdasarkan riset terbaru yang diterbitn a16z crypto pada Minggu (30/8), sekitar satu dari lima warga Argentina kini aktif memanfaatkan stablecoin. Dominasi instrumen stablecoin tercatat sangat mutlak dengan menguasai 94% dari total volume transaksi kripto berbasis peso, porsi tertinggi di dunia menurut data analitik Artemis.
​Ketergantungan warga Argentina terhadap stablecoin berakar dari krisis perbankan pada 2001 serta pengetatan kontrol devisa sejak 2019. Kala itu, pemerintah membatasi pembelian dolar resmi maksimal $200 per bulan. Kebijakan restriktif tersebut memaksa masyarakat mencari jalan keluar untuk mengamankan nilai kekayaan mereka dari depresiasi peso, menjadikan stablecoin sebagai alternatif dolar yang bisa diakses 24 jam nonstop tanpa batasan bank.
​Meskipun pemerintah Argentina telah mencabut sebagian besar pembatasan pembelian valas pada April 2025 dan selisih kurs digital kini hanya terpaut sekitar 4%, minat terhadap stablecoin ini tidak surut. Di sektor ketenagakerjaan, data platform penggajian Deel mencatat porsi pekerja lepas asal Argentina yang menerima pembayaran upah dalam bentuk USDC tetap bertahan stabil, mencerminkan tingginya ketergantungan pada likuiditas dolar digital.
​Menariknya, penggunaan stablecoin kini telah bergeser dari sekadar alat lindung nilai darurat menjadi kebiasaan transaksi sehari-hari. Walaupun inflasi bulanan Argentina telah melandai dari level 25,5% ke 2,1%, angka unduhan aplikasi wallet seperti Lemon justru terus meningkat setiap kuartal. Realitas ini membuktikan bahwa bagi masyarakat Argentina, membeli kripto sejatinya adalah langkah mudah untuk memegang dolar AS secara langsung di wallet mereka.



