


Investor legendaris Ray Dalio kembali merilis esai yang memperingatkan adanya pergeseran besar dalam tatanan moneter dan geopolitik dunia (11/04). Dalio menyatakan bahwa indikator ekonominya menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada sistem keuangan tradisional yang dipicu oleh besarnya beban utang serta ketegangan geopolitik. Menurutnya, devaluasi mata uang fiat menjadi konsekuensi logis ketika beban utang negara tumbuh terlalu besar, sehingga mendorong investor mencari perlindungan pada aset alternatif di market.
Dalam analisisnya, Dalio menyoroti penurunan signifikan nilai dolar AS terhadap aset keras. Ia mencatat bahwa dolar telah jatuh sekitar 27% terhadap emas dan 45% terhadap Bitcoin dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Meskipun ia tetap menempatkan emas sebagai aset paling aman, Dalio juga memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio sebagai aset non-berdaulat yang menawarkan kelangkaan di luar sistem perbankan tradisional di industri keuangan.
Dalio mencatat bahwa dalam situasi krisis akut, Bitcoin masih cenderung bergerak sejalan dengan aset berisiko (saham teknologi) dibandingkan emas. Data menunjukkan bahwa saat ketegangan geopolitik meningkat, emas cenderung menguat sementara Bitcoin mengalami volatilitas. Namun, Dalio percaya bahwa di tengah tren devaluasi dolar yang terus berlanjut, aset yang bebas dari risiko kredit akan memegang posisi struktural yang lebih kuat bagi investor di market.
Berdasarkan data market per 13 April 2026, harga Bitcoin (BTC) berada di level $70.915,81, sementara harga emas diperdagangkan di posisi $4.700 per ons.