Bitcoin Policy Institute merilis hasil studi "Money For AI" pada Jumat (16/10) untuk memetakan jenis mata uang yang dipilih AI agent dalam menjalankan tugas keuangan. Riset yang menguji 13 model AI terbaru dari sembilan lab teknologi global ini menemukan bahwa mayoritas model AI secara konsisten memilih Bitcoin (BTC) sebesar 70,8% sebagai aset lindung nilai jangka panjang. Di sisi lain, stablecoin mendominasi fungsi alat tukar transaksi harian sebesar 73,5% dan fungsi penyelesaian transaksi (settlement) sebesar 46,9%.
​Pola ini mengonfirmasi adanya pembagian peran yang jelas antara aset kripto utama sebagai instrumen lindung nilai dan stablecoin sebagai token bernilai stabil untuk aktivitas operasional harian. Temuan ini menjadi indikator penting mengingat AI agent diperkirakan bakal makin mendominasi transaksi ekonomi digital secara otonom di masa depan, sehingga preferensi algoritma model AI dapat memengaruhi arus likuiditas aset kripto secara signifikan.
​Pendiri Strategy, Michael Saylor, turut merespons temuan studi ini dengan merilis komentar singkat di media sosial, menegaskan bahwa smart money akan selalu memilih menabung dalam bentuk Bitcoin. Meskipun persentase Bitcoin mengalami penurunan dibanding studi awal yang sempat menyentuh 79,1%, posisinya tetap tak tergoyahkan sebagai pilihan utama untuk kategori aset lindung nilai dibanding mata uang fiat maupun tokenisasi dunia nyata (real-world assets). Bitcoin Policy Institute menyatakan bakal terus memantau tren preferensi keuangan AI ini secara berkala seiring dengan peluncuran model-model AI generasi terbaru di industri.



