


​Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan serangan rudal dan drone baru yang menyasar kapal-kapal tanker komersial di Selat Hormuz.
​Menurut laporan dari Axios yang mengutip pejabat militer AS, Iran menembakkan sedikitnya dua rudal terpisah ke arah kapal dagang transito sejak Senin malam (6/7). Agensi Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) asal Qatar, Al Rekayyat, mengalami kerusakan signifikan dan kebakaran di ruang mesin setelah dihantam proyektil di wilayah koridor Oman. Tak lama berselang, AS mengonfirmasi adanya kapal komersial ketiga yang turut menjadi sasaran eskalasi serangan ini, di mana sebuah kapal tanker minyak milik Arab Saudi juga dilaporkan ikut terhantam dalam 24 jam terakhir.
​Merespons insiden tersebut pada Selasa (7/7), pemerintah Qatar mengutuk keras aksi penyerangan ini. Pihak Qatar secara terbuka menyalahkan Iran atas hantaman yang menimpa kapal tanker gas mereka dan menegaskan bahwa Iran harus menanggung segala konsekuensi hukum yang berlaku akibat peristiwa tersebut.
​Serangan ini seolah menegaskan keinginan Iran untuk tetap memegang kendali penuh atas rute navigasi Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Iran menuntut agar seluruh kapal logistik melewati rute yang telah disetujui otoritas mereka, alih-alih menggunakan koridor laut Oman yang didukung penuh oleh militer AS. Merespons perkembangan situasi terkini di wilayah tersebut, harga minyak mentah Brent terpantau bergerak naik ke level $74 per barel saat artikel ini diterbitkan.