


​Riset terbaru dari lembaga analisis forensik blockchain Elliptic mengungkapkan bahwa Telegram dan Tether (USDT) telah bertransformasi menjadi pilar utama ekosistem kriminal modern. Berdasarkan laporan untuk lembaga keamanan Inggris RUSI pada Selasa (19/5), industri penipuan daring global diperkirakan merugikan korban hingga $442 miliar atau sekitar Rp7.072 triliun sepanjang tahun 2025. Di luar kerugian finansial, investigasi ini menyoroti krisis kemanusiaan massal dengan adanya 300.000 pekerja paksa yang disekap di berbagai pusat penipuan siber bawah ancaman kekerasan.
​Sindikat kriminal internasional memanfaatkan group chat khusus seperti Huione dan Xinbi di Telegram untuk memperjualbelikan data curian, akun palsu, hingga menyewa jasa rekening penampung. Total volume transaksi di pasar gelap digital tersebut diperkirakan menembus angka $66,6 miliar. Mayoritas pembayaran ilegal diselesaikan menggunakan token USDT di atas jaringan blockchain TRON guna menghindari sistem deteksi perbankan konvensional karena efisiensi biayanya yang tinggi.
​Chief Scientist Elliptic, Tom Robinson, mengkritik keras respons kedua perusahaan teknologi tersebut yang dinilai melakukan upaya pemblokiran seminimal mungkin. Sebagai contoh, platform Xinbi yang telah dijatuhi sanksi resmi oleh Inggris dan AS pada Maret 2026 terpantau masih aktif beroperasi dengan volume transaksi mencapai $35 juta per hari. Telegram diketahui hanya memblokir channel tersebut khusus untuk pengguna di wilayah hukum Inggris, namun membiarkan channel baru terus bermunculan kembali tanpa menyelesaikan akar masalahnya.