


​Perusahaan investasi negara Singapura, Temasek, mengonfirmasi bahwa mereka saat ini sama sekali tidak memiliki eksposur portofolio investasi langsung di sektor aset kripto. Presiden Investasi Global Temasek, Nadim Hamiyeh, dalam keterangannya kepada CNBC pada Rabu (8/7), menegaskan bahwa pengelola dana raksasa senilai $400 miliar tersebut kini lebih memilih untuk mengarahkan alokasi modalnya pada pengembangan sektor kecerdasan buatan (AI). Menurut Hamiyeh, peran industri kripto terhadap ekonomi riil ke depannya masih akan sangat bergantung pada kejelasan dan arah perubahan regulasi di berbagai negara.
​Sikap konservatif Temasek terhadap kelas aset digital ini tak lepas dari rekam jejak yang mereka alami pasca-runtuhnya bursa FTX pada tahun 2022 lalu. Akibat insiden tersebut, Temasek harus menelan kerugian total senilai $275 juta. Buntut dari kejatuhan itu juga mendorong Otoritas Moneter Singapura (MAS) untuk secara signifikan memperketat tinjauan lisensi dan aturan perlindungan konsumen, yang pada akhirnya menekan selera risiko institusional akibat tingginya beban kepatuhan bagi entitas Web3.
​Sebagai gantinya, Temasek kini bersiap untuk meningkatkan alokasi investasinya secara tajam di ekosistem AI, dengan target lonjakan dari 6% menjadi 15%. Hamiyeh menilai bahwa siklus inovasi teknologi ini baru saja dimulai dan berpotensi terus berkembang hingga beberapa dekade mendatang. Meski demikian, ia menekankan pentingnya pendekatan yang selektif mengingat valuasi beberapa proyek AI saat ini sudah melampaui fundamentalnya. Bagi Temasek, fokus utama investasi ke depan akan diarahkan pada perusahaan yang punya use case praktis di industri dan mampu memanfaatkan AI untuk mendongkrak daya saing warga Singapura di industri global.