Tim riset keamanan siber Bitdefender menemukan penyebaran malware pencuri data (infostealer) Lumma Stealer yang menyusup lewat file unduhan bajakan film The Odyssey. Para pelaku kejahatan siber memanfaatkan tingginya trafik unduhan pascarilis film tersebut untuk menyamarkan file eksekusi berbahaya (.exe) ke dalam label format video resolusi tinggi seperti 1080p, WEBRip, hingga Blu-ray guna membidik data sensitif investor ritel dan pemilik aset kripto.
​Modus rekayasa sosial ini mengeksploitasi fitur default sistem operasi Windows yang menyembunyikan ekstensi file, didukung manipulasi ikon aplikasi agar menyerupai pemutar media seperti VLC. Begitu file dieksekusi di perangkat pengguna, payload Lumma Stealer langsung beroperasi di latar belakang untuk mengekstraksi data kredensial wallet kripto, seed phrase, riwayat kata sandi, serta cookie autentikasi sesi aktif.
​Pencurian session cookie ini menjadi ancaman serius bagi keamanan akun bursa kripto dan platform fintech. Dengan mereplikasi sesi peramban yang sah, peretas berpotensi memintas proteksi multi-factor authentication (MFA/2FA) tanpa memicu sistem peringatan login. Otoritas penegak hukum sebelumnya mencatat varian LummaC2 telah terafiliasi dengan sedikitnya 1,7 juta insiden pencurian data secara global melalui model operasi Malware-as-a-Service (MaaS).
​Penyebaran infostealer lewat media bajakan ini menegaskan tingginya risiko serangan pada endpoint pribadi yang kerap digunakan bersamaan untuk aktivitas transaksi Web3. Komunitas dan pengelola aset kripto diimbau untuk meningkatkan opsec (operational security), mengaktifkan visibilitas ekstensi file pada sistem operasi, memisahkan perangkat transaksi aset dari perangkat harian, serta memastikan seluruh kunci privat tersimpan dalam mekanisme cold storage yang terisolasi.



