


​Firma riset dan market maker Wintermute merilis laporan market terbaru pada Selasa (9/6) yang menyoroti betapa rapuhnya kondisi fundamental market kripto saat ini. Dalam laporan tersebut, anjloknya harga Bitcoin ke area $60.000 terindikasi kuat akibat aksi jual masif lintas investor. Tekanan jual ini secara spesifik dipelopori oleh institusi di wilayah Amerika Serikat yang mendadak pesimis, di mana wilayah yang sebulan lalu mengerek harga ke $83.000 kini justru agresif membuang muatannya.
​Berdasarkan pantauan dari desk layanan over-the-counter (OTC) mereka, analis Wintermute menguraikan mengapa kejatuhan harga saat ini terjadi begitu dalam tanpa perlawanan. Alasan utamanya adalah ketiadaan titik support yang kuat, mengingat Bitcoin tidak pernah menghabiskan waktu yang memadai di rentang $50.000 hingga $59.000 saat reli awal tahun. Di saat bersamaan, kelompok investor ritel terpantau sudah lebih dulu beralih membuang aset kripto mereka demi mengejar tren keuntungan yang sedang booming di market saham tradisional.
​Kombinasi antara ketiadaan titik support yang kuat, ritel yang kabur, dan institusi yang membuang barang ini akhirnya terekam jelas pada data on-chain yang mencatat rekor arus keluar dari ETF Bitcoin senilai $2,97 miliar. Wintermute menyimpulkan, euforia saham selama ini hanya menutupi market kripto yang kian sepi pembeli. Begitu euforia saham kecerdasan buatan (AI) mulai retak dan rilis data tenaga kerja AS memaksa imbal hasil melonjak, aset kripto terpaksa menanggung beban kejatuhan yang paling fatal akibat ilusi kekuatannya yang telah hancur.