


​Harga minyak WTI meroket hingga $115 per barel di market futures Hyperliquid pada Senin (9/3), melonjak dari posisi $90 pada akhir pekan lalu. Eskalasi ini dipicu oleh serangan udara Israel ke infrastruktur minyak Iran yang dibalas dengan serangan ke kilang Haifa. Disrupsi kian nyata setelah Irak mengonfirmasi kehilangan pasokan hingga 3 juta barel per hari, sebuah angka yang melampaui krisis energi global tahun 2022.
​Kondisi diperparah oleh kebijakan Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) yang mulai memangkas produksi akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz. Jalur distribusi yang memasok 20% energi dunia tersebut kini melambat drastis, mengancam habisnya stok cadangan global dalam hitungan hari. Hal ini menciptakan tekanan fisik yang luar biasa pada ketersediaan minyak mentah di market internasional.
​Qatar memproyeksikan harga minyak dapat terus melambung hingga menembus $150 per barel jika blokade di Teluk terus berlanjut. Dengan peluang gencatan senjata di Polymarket yang anjlok ke level 24%, para pelaku market kini bersiap menghadapi guncangan inflasi yang tidak berkelanjutan. Volatilitas ini diprediksi juga akan terus menekan indeks saham global seiring memanasnya situasi geopolitik.