asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
BTCUSDT74,790.0-2638.77 ( -3.41% )
EDENUSDT0.1044-0.0419 ( -28.64% )
ETHUSDT2,031.97-98.8 ( -4.64% )
FIDAUSDT0.03499-0.00669 ( -16.05% )
HYPEUSDT54.92-5.95 ( -9.78% )
MAPOUSDT0.001713-0.00026 ( -13.18% )
SOLUSDT82.34-4.99 ( -5.71% )
SUIUSDT1.0042-0.1059 ( -9.54% )
U2UUSDT0.00049+0.000068 ( +16.11% )
Powered by
News - Web3

Otoritas India Klaim Bongkar Aktivitas Gelap Gunakan Monero Senilai Rp437 Miliar

User
May 20, 2026 | 23:51 WIB
User
UpdatedDwi Cahyo
May 20, 2026 | 23:51 WIB
Otoritas India Klaim Bongkar Aktivitas Gelap Gunakan Monero Senilai Rp437 Miliar

​Otoritas keamanan India melalui Gujarat Cyber Centre of Excellence (CCoE) mengklaim telah membongkar jaringan pencucian uang kripto senilai 226 crore rupee atau sekitar Rp437 miliar pada Selasa (19/5). Kepolisian setempat langsung menuding bahwa wallet milik salah satu warga yang ditangkap, Mohammed Zubair Popatia, merupakan bagian dari infrastruktur pendanaan faksi militer Hamas. Penangkapan sembilan tersangka di wilayah Gujarat, Mumbai, dan Haryana ini memicu perhatian karena otoritas India dinilai terlalu cepat mengaitkan aktivitas aset digital lokal dengan konflik geopolitik di Timur Tengah.

​Dalam rilis resminya, penegak hukum menduga para pelaku memanfaatkan teknologi privasi dari koin Monero (XMR) untuk memindahkan aset, sebelum mengonversinya ke bentuk Tether (USDT) melalui jaringan hawala. Kepolisian Gujarat mengklaim wallet tersebut terhubung dengan pembekuan sepihak yang pernah dilakukan otoritas Israel sebelumnya. Kendati demikian, laporan resmi ini belum mempublikasikan bukti forensik on-chain yang mendetail untuk membuktikan apakah transaksi tersebut murni aktivitas komersial biasa atau memang memiliki hubungan struktural langsung dengan faksi militer di Palestina.

​Tindakan agresif ini merupakan bagian dari perluasan strategi nasional "PRAHAAR" yang digagas Kementerian Urusan Dalam Negeri India sejak Februari 2026. Banyak pihak menilai langkah India yang secara masif menyeret nama Hamas, Houthi, hingga IRGC Iran bertujuan untuk melegitimasi penggunaan teknologi pelacakan berbasis AI terhadap transaksi domestik.

Copiedbagikan